Dalam skala global, investasi di sektor energi nuklir semakin meningkat. Beberapa perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Amazon, Microsoft, dan Meta mulai berinvestasi dalam tenaga nuklir untuk mendukung kebutuhan energi pusat data mereka.
Hal ini menunjukkan bahwa nuklir bukan lagi energi masa depan, melainkan sudah menjadi realitas kebutuhan energi saat ini.
Baca Juga:
Indonesia Ketinggalan 20 Tahun, MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Menko Pangan Gandeng Danantara Ubah Sampah Jadi Listrik
Namun, Tohom mengingatkan bahwa meskipun nuklir dapat menjadi solusi energi bersih, tantangan dalam pengelolaan limbahnya tetap menjadi isu utama.
Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk segera menyusun regulasi yang jelas serta memastikan bahwa setiap rencana pembangunan PLTN sudah mencakup strategi penanganan limbah yang aman dan berkelanjutan.
“Kita tidak bisa hanya melihat potensi listrik yang besar dari nuklir, tetapi harus memperhitungkan seluruh aspek, termasuk pengelolaan limbahnya. Pemerintah harus memastikan bahwa infrastruktur penyimpanan limbah dibangun bersamaan dengan PLTN, bukan setelahnya,” pungkasnya.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Pemerintah Beri PLN Kewenangam Kelola Ekspor-Impor Listrik Demi Tingkatkan Efisiensi dan Keamanan Energi
[Redaktur: Frans Dhena]