Meskipun demikian, negosiasi dengan kreditur dan lessor masih alot dan membutuhkan waktu yang panjang.
Salah satu alasannya, pesawat yang digunakan Garuda dimiliki puluhan lessor.
Baca Juga:
Stok Beras Nasional Capai 3,3 Juta Ton, Bulog Siap Hadapi Lonjakan Kebutuhan 2026
“Kalau mentok ya kita tutup, tidak mungkin kita berikan penyertaan modal negara karena nilai utangnya terlalu besar,” katanya.
Tiko menilai, opsi penutupan Garuda tetap terbuka meski berstatus sebagai maskapai flag carrier.
Alasannya, saat ini sudah lazim sebuah negara tidak memiliki maskapai yang melayani penerbangan internasional.
Baca Juga:
Kemenpora dan BRI Dorong Atlet SEA Games 2025 Kelola Bonus secara Bijak
Dia pun beralasan, meskipun Garuda bisa diselamatkan, nyaris mustahil Garuda bisa melayani lagi penerbangan jarak jauh, misalnya ke Eropa.
Oleh karena itu, untuk melayani penerbangan internasional, maskapai asing akan digandeng sebagai partner maskapai domestik.
Misalnya, London-Denpasar dilayani maskapai asing untuk rute London-Jakarta, sedangkan Jakarta-Denpasar dilayani maskapai domestik.